Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Warga Melayu ⁽¹⁴⁵⁰⁻⁰⁹⁻ᴷᴰᴴ⁾

MAHAR CINTA UNTUK KEKASIH

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:

“Dalam Hadis Qudsi Allah SWT berfirman, ‘Dustalah pengakuan seseorang yang mengaku mencintai-Ku, namun tatkala malam menghampiri ia malah tidur mengabaikan Aku.”

Jika engkau menjadi bagian dari orang-orang yang mencintai Allah, maka engkau akan merasa tersiksa oleh tidurmu, kecuali tidur yang tidak disengaja.
Orang yang mencintai itu lelah, dan yang dicintai selalu tenang. Orang yang mencintai adalah pencari, sedangkan yang dicintai adalah yang dicari.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman kepada malaikat Jibril: “Wahai Jibril, tidurkanlah si Fulan dan bangunkanlah ia!”

Firman ini memiliki dua pengetian:
Pertama, Dia berfirman “Bangunkanlah fulan yang mencintai dan tidurkanlah fulan yang dicintai. Orang yang mengakui mencintai-Ku harus Aku berikan tantangan dan menempatkannya pada posisi seharusnya agar ‘dedaunan’ yang tumbuh di dalam hatinya menjadi berguguran. Bangunkanlah dia agar jelas bukti pengakuannya serta terwujud rasa cintanya.

Dan, tidurkanlah ia, karena dia adalah orang yang dicintai yang telah lama mengalami kelelahan.
Tidak ada satu pun yang tersisa baginya untuk selain diri-Ku. Aku mengambil cintanya untuk-Ku. Pengakuannya terbukti, begitu juga dengan keterangannya dan pelaksanaannya terhadap janji-Ku.
Tobatnya menghampiri-Ku, begitu juga dengan penunaiannya terhadap janji-Ku. Ia adalah tamu. Seorang tamu tidak diminta untuk melayani dan bekerja. Tidurkanlah dirinya pada meja makan karunia-Ku, serta tenangkanlah dirinya dengan kedekatan kepada-Ku. Kasih sayangnya sungguh benar. Maka, lenyaplah seluruh beban dirinya!”

Kedua, Dia berfirman, “Tidurkanlah fulan, karena ia menginginkan ridha makhluk melalui ibadahnya kepada-Ku. Bangunkanlah fulan, karena ia mendapatkan ridha-Ku dengan cara beribadah kepada-Ku. Tidurkanlah fulan, karena Aku membenci suaranya. Bangunkanlah fulan, karena Aku ingin mendengar suaranya.”

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Jala Al-Khathir